Pada suatu ketika Haji Abdullah telah membunuh seseorang disuatu perkelahian dengan tidk sengaja, karena takut kena tangkap dan penuh penyesalan yang bersangkutan lari dan sampailah kepinggir pantai (Muara Sungsang) ?. Ditengah laut dilihatlah ada kapal lewat tidak jauh dari pantai. Dengan tekad yg habis berserah diri pada Tuhan Yang Maha Esa beliau berenang/terapung-terapung ditengah laut, maka nakhoda kapal mengangkat terus membawanya kedaratan Semenanjung Melayu.
Menurut setengah riwayat berjalan diatas laut menuju kapal. Dengan tekad yg bulat Haji Abdullah pergi berjalan kaki menuju Tanah Suci Mekkah. Disuatu padang pasir disana beliau diserang pasukan perampok tanpa sebab dipenggallah lehernya. Mungkin hal itu terjadi karena perampok penasaran tidak menemui harta pada dirinya. Haji abdullah cukup sadar (mengetahui) bahwa kepalanya telah terpisah dengan badannya. Setelah para perampok pergi tiba2 atas izin Tuhan Yang Maha Esa kepala beliau tersambung kembali sehingga hidup kembali dan timbul keheranan pada diri beliau.
Pada saat dipadang pasir juga, jauh dari tempat musibah, tiba2 terdengar suara dari atas langit memanggil namanya. Dengan merasa heran dan tak melihat rupa sipemanggil maka beliau meneruskan perjalanan ke Mekkah.
Seusai menjalani naik haji,maka terasalah bahwa dirinya telah menjadi wali Allah, maka teringatlah beliau bahwa yg memanggil namanya sebenarnya adalah Nabi khaidir as, (aji saka/sang hiang rakian sakti). Rupanya selama dalam perjalanan ketanah suci senantiasa dibayangi Sang Hiang Rakian Sakti. Adapun Haji Abdullah berasal dari desa Sukabanjar dan kawin atau semenda pada keluarga keturunan Raja Aji Sai di desa tanjung raya.
Sepulangnya beliau ke Tanjung Raya, lama sekali barulah masyarakat mengetahui bahwa beliau telah menjadi Wali Allah.
Suatu ketika Suatu mesjid di Desa Tanjung Raya (Saka Aji) para hadirin mengajukan permintaan untuk membuktikan apakah benar2 beliau itu seorang wali Allah. Masyarakat mengajukan usul supaya beliau mengambil buah korma dari mekkah dan membawanya kesananya. Dengan sekita beliau menghilang dari pandangan seperti halnya seorang Wali Allah dan dalam sekejap saja kembali menyerahkan buah korma dari mekkah . Sejak itu percayalah masyarakat disana bahwa beliau telah menjadi Wali Allah, malahan setiap jumat beliau sembahyang di mekkah (MasjidilHaram) .
Kemudian harinya disaat beliau berpulang pada hadirat Allah beliau berpesan supaya tubuhnya dimakamkan didesa Sukabanjar, tetapi masyarakat desa Tanjung Raya tidak melaksanakanya, sewaktu kuburannya digali dan tubuhnya akan di kebumikan, maka tiba2 keluar air dari dalam lubang kuburan, terpaksa kuburan baru digali lagi, tetapi keadan sama, setelah beberapa kali kuburan baru digali tetapi masih tetap sama , maka akhirnya tubuh beliau dimakamkan didesa Suka Banjar sesuai pesannya.
Khususnya di Cirebon, Naga Sakti/ Nabi Khaidis As, dikenal sebagai Aji Saka yang pernah memberi pernyataan bahwa Nabi Isa, bahwa 600 tahun sejak waktu itu akan muncul Nabi Akhir Zaman, malahan beliau pernah menjelma (menyamar) sebagai sinterklas, memberi peringatan kepada umat nasrani supaya hidup dengan rasa kasih sayang jika ingin hidup/menjadi manusia mulia (Jaya) dan sempurna ai akhirat hanya saja umat itu salah menafsirkan.
Dengan adanya pernyataan Nabi Khaidir As (Naga Sakti/Aji Saka) itu beliau telah mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW lah yang dapat memberi petunjuk dimana beliau berada (bersemayam) yg mengemban tugas memperingatkan manusia pada H.I.K. (Falsafah Jaya Sempurna) sepanjang zaman. Jadi pada hakekatnya Nabi Muhammad SAW telah menunjukan Zaman bahwa H.I.K itu akan turun kembali di tempat semula.
Ramalan mengenai Kendedes pada hakekatnya dorongan Nabi Khaidir As (aji saka) dalam rangka penurunan kembali H.I.K melalu keturunan Kendedes yg akan menggali H.I.K itu. Malahan Nabi Khaidir As (Aji Sai) sendiri turun sebagai Santy/Sang Hiang Rakian Sakti melalui keturunan Kendedes itu yakni Hiang Wekas Ing Suha (Hiang Jagad Prabu) dan putri Raja Kediri Wirabumi.
Ramalan Prabu Jaya tak obahnya seperti ramalan Kendedes, menjurus mengingatkan H.I.K (Falsafah Jaya Sempurna) dan tempatnya (kesatuan Nusantara). Dalah hal ini bahwa H.I.K itu memang berlambang Matahari (cahaya kehidupan). Jadi tidak heranlah jika bangsa Jepang menganggap bangsanya adalah sebangsa dengan Indonesia/Nusantara (Asia Timur Raya). Sebagaimana terurai diatas (Bentuk KePercayaan) bahwa kepercayaan daerah Sengang/Sekalom (Nusantara) adalah kepercayaan pada Nabi Khaidis As /Naga Sakti sebagai raja Alam Gaib /Dunia yang hidup sampai Hari kiamat dan selanjutnya disebut Masyarakat setempat (antara lain Lampung Sekarang) dan suku sunda dengan nama Sang Hiang Sakti, raja khayangan(Alam Gaib/Dunia) atau "Gung Binathara Bau Denda Nyakrawati". Jadi kebudayaan Naga Sakti /Matahari (Falsafah Jaya Sempurna) telah berpengaruh sebelum abad 1 Masehi pada Bangsa Jepang yang mengabadikan Falsafah Jaya Sempurna/Matahari sebagai lambang Bangsanya. Dewa Amaterazu Omikami yg disebut bangsa Jepang itu pada hakekatnya adalah Nabi Khaidir as/Naga Sakti, setidak-tidaknya Omikami penganut utama Sang Hiang Sakti atau Dewa Matahari menurut istilah Jepang. Hanya saja ajaran-ajarannya telah banya perubahan karena pengaruh zaman, tetapi intinya tetap berkiblat pada matahari (cahaya kehidupan) atau raja alam gaib/Dunia.
Ramalan Prabu Jayabaya mengenai akan datang Perang Bharata Yuda sangat erat hubungannya dengan HIK (Falsafah Jaya Sempurna) karena Peristiwa itu dititik beratkan di jawa(Nusa Kendeng) di tempat mana Prabu Niska (Si Mata Empat) lari (Melayu) bersama pengikutnya dan menurunkan agama Hindu/Hukum kastaisme di Nusa Kendeng (jawa) tahun 78 masehi. Mengenai waktu zaman apa datanya Perang Bharata Yuda itu telah di sinyalir oleh Nabi Muhammad SAW dengan petunjuk terurai diatas. Bukankah orang cina adalah komunis mirip kezoliman/kastaisme. Maka jelaslah laten komunis dan kaum totaliter/Liberal gaya baru yang menjadi penyebab perang Bharata Yuda dalam perang itu mereka tidak kenal lawan dan kawan lagi. Jadi sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW itu bahwa sebagai wasit dalam perang Bharata Yuda dan lain-lain adalah Nabi Khaidir as (Naga Sakti/Aji Saka/ Sipahit Lidah/Sang Hiang Rakian Sakti/Pangeran Surya Negara) yakni Hukum Inti Ketuhanaan (Falsafah Jaya Sempurna) yang akan di gali dari tenggelamnya pada tahun 80 masehi.
Sesuai dengan kedudukan Nabi Khaidir as /Naga Sakti sebagai memperingatkan manusia, maka petunjuk Nabi Muhammad SAW itu dan ramalan Prabu Jayabaya berkaitan satu sama yg lain mengenai situasi dunia saat ini, hanya saja karena HIK itu nabi Khaidir as/Naga Sakti bersemayam di pusan laut/putaran Tasik (Nusantara) maka titik penurunan kembali HIK itu di wilayah beliau sendiri yg tujuannya tetap untuk dunia /manusia yg pada umumnya sekarang sama ahlak/sewatak/perilaku dengan kaum zalim serta berbagai bentuk/fariasi gerak tindaknya.
Seperti kita ketahui semua perbuatan Nabi/Rasul adalah gerakan dari Tuhan Yang Maha Esa dan mempunyai tujuan mengenai sesuatu sungguhpun untuk masa umpama 1000 tahun yang akan datang atau perbuatan dan sebagainya wajib di contoh/diketahui. Untuk mengetahui itu,
semua yang dimaksud harus ditafsirkan dengan dasar jiwa ketuhanan.
Tidak ada perbuatan Nabi/Rasul (Aulia Allah) yg tidak baik atau bertujuan tidak baik. Demikian juga halnya Nabi Khaidir as (Naga Sakti/Aji Saka/Si Pahit Lidah) yg hidup sepanjang zaman dan mengemban tugas Tuhan Yang Maha Esa untuk memerintahkan manusia pada HIK (falsafah jaya sempurna) untuk manusia hidup bermasyarakat yg pada hakekatnya beliau adalah Rasul Sepanjang zaman. Dengan adanya persumpahan (pertanda) pohon maja dimana Aji Saka /Si Pahit Lidah akan muncul menurunkan kembali HIK itu yang kedua kalinya di Nusantara sebagai manusia suci/Rasul sepanjang zaman maka nabi khaidir as (naga sakti/aji saka) tetap akan menurunkan HIK di tempat semula dimana beliau sepanjang zaman bersemayam dan tetap hidup dalam kesucian.
Peristiwa saka tenggelam mempunyai makna yg tersirat bahwa akan diturunkan kembali HIK dizaman yg akan datang melalui keturunannya, hakekatnya di gali/penggalian. Peristiwa itu di latar belakangi karena HIK dihianati disebabkan bahwa masyarakat setempat kembali menjadi manusia biadab. Kerukunan dan damai telah di obrak-abrik yg titik beratnya bahwa kesejahteraan zohir dan batin tergoyah.
Di pandang dari segi ketuhanan bahwa cirinya bahwa manusia tidak hidup dalam kerukunan
dan damai adalah tergoyahkan kesejahteraan zohoir dan batin karena senantiasa /semata-mata bertujuan hidup duniawi saja saling gontok-gontokan dan sebagainya, karena jiwa yg tidak tentram dan selalu berperang batin tidak terdapat lagi ilmu (hukum/politik) untuk membina kesejahteraan batin itu. Segala sifat peperangan zohir dan batin adalah ciri2 manusia biadap dipandang dari Ketuhanan (Nabi Khaidir as/Aji Saka), yang utama sekali demi kerukunan dan damai harus membina /membangun kesejahteraan batin (ahlak/watak/prilaku) sebagai tujuan hidup. Dengan penghianatan kaum zalim itu, maka demi kesucian HIK disimpan dahulu (tenggelam) oleh Nabi Khaidir as (Naga Sakti/Si Pahit Lidah) untuk zamannya di gali kembali oleh keturunannya (penggali) untuk di hidangkan kembali di tempat semula, tetapi dari keturunannya sebagai keturunannya sebagai Sang Hiang Rakian Sakti/Pangeran Suryj Negara nantinya. Sebelum diadakan hukum pada kaum zolim itu (biadab) dalam rangka screening telah diselamatkan terlebih dahulu sebagai generasi penerus HIK (falsafah jaya sempurna) yakni Kasih Jaya/Keluarga yg kemudian di restui Nabi Khaidir as (Naga Sakti/Aji Saka/Sipahit Lidah) menjadi Raja Negeri Seriwijaya di siguntang. Nama Sriwijaya merupakan tugu/ mengabdikan baik HIK maupun Kasih Jaya supaya senantiasa diingat atau sebagai kompas untuk mengetahui HIK (falsafah jaya sempurna) di zaman datangnya.
Manusia di pandang dari segi Ketuhanan mahluk mulia dan sempurna tetapi yg berjiwa (hakiki ) kasih sayang yg digambarkan oleh Nabi Khaidir as (Naga Sakti/Aji Saka/Si Pahit Lidah) menjadi nama Falsafah Jaya Sempurna. Jadi raja kasih jaya dikiaskan dengan Raja Jayanan Jaya atau Seriwijaya. Di pandang dari segi landasan Negara maka Seriwijaya perobahan dari nama Falsafah Jaya Sempurna (HIK). Nama siguntang pertanda atau tugu sebagai kompas itu. Seguntang berarti, Se = Sang (Yang Mulia/Suci), Guntang = Tanda/Tugu, Guntang-Guntang = Pertanda, yang maksudnya bahwa dari bawah Guntang-Guntang itu akan timbul sesuatu yakni kebenaran Hukum (Falsafah Jaya Sempurna) yang telah tenggelam (Silam).
Sang Hiang Rakian Sakti di Juluki pula sebagai Raja Bahasa (Basa). Menurut riwayat pada suatu ketika beliau akan mencari seorang Permaisuri, untuk itu diadakan sayembara bahwa siapa yg bisa berbahasa Haji (Haji Sakti) pilihan akan jatuh pada yg bersangkutan. Berduyun-duyun Putri dari berbagai Negeri ikut dalam sayembara tetapi satupun tak ada yg pandai berbahasa Haji itu. Pada saat sayembara tiba2 muncullah seorang putri dari Pesagi (Skala Berak) yg keadannya berpenyakitan. Sang Hiang Rakian Sakti berdialoglah dengan putri tersebut agak lama, kemudian dinyatakan pilihan jatuh pada putri tersebut yg di juluki PUTRI BIDADARI ANGSA. Penyakit yg diidapnya dengan suatu kesaktian Sang Hiang Rakian Sakti sembuh dengan seketika. Dalam berdialog itu dilaksanakan dengan berbagai bahasa dan sangguplah putri tersebut melayani Sang Hiang Rakian Sakti berdialog. Hakekat bahasa Haji menurut Sang Hiang Rakian Sakti adalah bahasa yg terbanyak dikuasai rakyat, yg berarti semua bahasa itu bila berbaur melalui pergaulan antar suku, bisa timbul suatu bahasa tunggal sebagai bahasa persatuan. Berdasarkan sejarah ini bangsa menurut ilmu beliau adalah suatu kelompok manusia yang digolongkan serumpun bahasa bangsa menurut ketentuan ini tidak disebabkan oleh perbedaan kulit, golongan, agama dan lain-lain.
Jumat, 16 September 2011
Riwayat Haji Abdullah
Diposting oleh
inzankelana
di
08.58
0
komentar
BATU NISAN MAKAM SANG HIANG RAKIAN SAKTI DI SAKA AJI
HILANG TAPI TAK HILANG
1. Aku tergantung tak bertali.........
2. Menempel tak melekat.
3. Mengambang tak karena alam
4. Di udara bebas kemana-mana ........, bukan benda alam
5. Apakah aku......tak dapat di jamah orang.
6. Kini ......Aku menghilang, tetapi ......Tak hilang.
7. Hanya petaruhku......Pusaka.....Ini.
8. Mohon di ingat.......sepanjang zaman.
NOTE
Puisi ini gambaran menghilangnya Sang Hiang Rakian Sakti, dan hakekat meninggalkan benda Pusaka (Cendana Sakti) sebagai pertanda Judul (Hilang Tapi Tak Hilang)
Diposting oleh
inzankelana
di
08.56
0
komentar
Adat Istiadat
Adat istiadat disebelah utara Kerajaan Saka(Aji Sai) telah lama dibentuk sejak berdirinya kerajaan tersebut . Pembentukan adat dilakukan oleh Tokoh-tokoh kerajaan dalam bimbingan Sang Hiang Rakian Sakti/Falsafah Jaya Sempurna. Daerah sebelah selatan (pedalaman Lampung Sekarang) adat belum dibina secara resmi karena sebagian besar penduduknya antara lain Suku Abung /masih membangkang terhadap agama islam /Sang Hiang Rakian Sakti padahal agama Islam tidak dipaksakan. Baru setelah kemudian hari mengetahui bahwa Sang Hiang Rakian Sakti / Pangeran Surya Negara sebenarnya leluhur mereka juga (Aji Saka), lagi pula permaisuri Sang Hiang Rakian Sakti berjuluk bidadari Angsa adalah Putri dari Ratu Pesagi, maka mereka kembali berasimilasi dengan pangeran Sang Aji Maliki (Agama Islam) yg pada waktu itu Pangeran ini adalah Raja Kerajaan Haji (Saka Aji) tahun 1640. Terbentuklah adat pepaduan yg dalam penasehatan/pengarahan oleh Pangeran Sang Aji Maliki, sesuai dengan kedudukannya sebagai Ratu Adil. Beliau tidak memaksakannya pada peserta sidang mengenai sesuatunya. Segala keputusan, khusu di tentukan oleh 5 (lima) peserta sidang kecuali beliau, yang berarti para peserta mempunyai hak suara yg sama /adil. Sidang perwakilan ini tidak akan terkesan/merasa paksaan dari anggota lainnya secara langsung maupun tidak langsung. Dan sistim persidangan yang adil itu dikhususkan atau dititik beratkan "hikmahnya yang diambil" dalam arti kata bahwa para peserta merasa rela terhadapan keputusan yang diambil karena persidangan telah dilaksanakan dalam suasana keadilan dengan berlandaskan (berpedoman) "segera penanggulangan sesuatu jika tidak baik atau di sangka akan berakibat tidak baik",sedangkan tujuan hidup manusia untuk mengabdi pada sesama manusia/Tuhan atau membina kerukunan dan damai. Dengan dasar ketentuan ini bila benar-benar di hayati, maka otomatis adil, makmur dan sejahtera zhohir bhatin akan terwujud. Bentuk persidangan dan lain-lain diatas adalah pengaruh dari kerajaan dari kerajaan Saka Aji/HIK (Falsafah Jaya Sempurna). Dalam tema/Persoalan pembentukan adat perpaduan dalam rangka menyesuaikan ala kadarnya kebudayaan masyarakat (pengaruh Budha/Hindu) dengan kebudayaan/hukum islam. Setelah adat pepaduan dibina, maka kelima peserta (buay) sidang menyebarkan adat tersebut kedaerahnya masing-masing
Diposting oleh
inzankelana
di
08.54
0
komentar
Pion dan Aulia
1. Aulia yg langsung di turukan Tuhan Yang Maha Esa (luhmahfus) setahu Nabi Khaidir As umpamanya terhadap Nabi Isa As, dan lain2.
2. Pion (aulia) yg besar kemungkinan penitisan dari Aulia2 zaman yg lalu (dialam gaib) /dunia antara lain Syekh Abdul Kadir Jailani setelah dibayangi, maka di bina sebagai wali Allah si Saka Aji Indonesia.
3. Pertanda penggugahan lainya, berlaku terhadap manusia biasa (diberi kundu) bahwa setiap perbuatan yg bersangkutan selama hidupnya merupakan gerak dari Tuhan Yang Maha Esa (Nabi Khaidir As) yg diarahkan sedemikian rupa supaya mendapatkan perhatian manusia (ditafsirkan) terutama yg menjurus kesoal Hukum Falsafah, antara lain Muhammad Ali Hanafiah, peristiwa penjajahan Jepang dan adanya Bung Karno, serta Khadist Nabi sebagai Petunjuk bahwa "carilah ilmu sampai ke negeri Cina".
Maksud pertanda penggugahan, utama sekali supaya manusia, khususnya manusia Nusantara senantiasa ingat pada kebudayaan/sejarah beliau antara lain H.I.K (Falsafah Jaya Sempurna) yg mana beliau bersemayam di pusaran laut/putaran tasik Danau ranau.
Umpama Nabi Muhammad S.A.W pernah berkata bahwa carilah Ilmu sampai ke negeri cina, sedangkan Cina itu bukan Umat Islam, jelas sekali bahwa perkataan Beliau tersebut mengandung arti sangad mendalam sekali yg semata-mata menjurus ke soal hukum H.I.K untuk manusia hidup bermasyarakat (kebudayaan Naga Sakti/Juru Selamat). Maksud untuk mengetahui H.I.K itu terlebih dahulu ada perhatian /penyelidikan kebudayaan Bangsa Cina. Tegasnya dari segala macam kebudayaan2 bangsa2 antara lain Kebudayaan Cina itu segala "sesuatu yang baik" bagi manusia dapat digali (dikristalisasi) sehingga akhirnya menjurus ke H.I.K (Falsafah Jaya Sempurna).
Diposting oleh
inzankelana
di
08.50
0
komentar
Rabu, 14 September 2011
Kepercayaan sebagai pemusatan ilmu Kebhatinan
Roh tunggal (manusia) sebagai tempat ketergantungan di dunia umumnya dan
Nusantara pada khususnya adalah Raja Alam Gaib /Dunia yakni Naga sakti
/Nabi Khaidir As (Penitisannya Aji saka/Si Pahit Lidah ,
S.H.R.S/Pangeran Surya Negara) yg di Nusantara di kenal dgn kepercayaan
/ilmu kebathin Sang Hiang Sakti(Sang Hiang Rakian Sakti). Di Cina
terkenal dgn Naga Sakti dan Kwan Im sebagai juru selamat dan di Jepang
dgn nama Amata Razu Omikami (Dewa Matahari).
Baik Khong Hu Cu maupun Amatarazu Omikami sebenarnya adalah sahabat
(utusan)penyebar kebudayaan (kepercayaan) pada Naga Sakti /Matahari
-Bulan (cahaya Tuhan /hukum). H.I.K berlambangkan Matahari/bulan
(cahaya kehidupan /kegiatan ) ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Tanpa cahaya
kehidupan /kegiatan ini atau H.I.K utk manusia hidup bermasyarakat,
tidak ada kehidupan /kegiatan itu seluruh smesta alam zohir batin. Di
pandang dari sudut kejiwaan, maka hukum itu merupakan kepercayaan/ilmu
kebathinan antara lain tempat manusia mencari ilmu perdukunan
kesaktian-kesaktian dan sebagainya. Falsafah pengobatan penyakit
kebathinan (kesejahteraan bathin/ketentraman hidup) dan sebagainya. Pada
hakekatnya ilmu kebathinan adalah ketergantungan (pemusatan) pada Naga
Sakti (Nabi Khaidir as sebagai Raja Alam gaib/dunia yg oleh org jawa
disebut Kepala Keramat/ilmu kebathinan yg senantiasa bersidang di
Pemejahan/Istana Bogor, apalagi keadaan nusantara /dunia gawat pada saat
ini. Jadi dgn terbongkarnya rahasia kepercayaan /ilmu kebathinan,
tepatnya turunya kembali H.I.K itu, maka Naga Sakti /Nabi Khaidir As
mengingat-ingat nama-namanya dalam penerapan hukum zaman yg lalu dan
dasar hukum yg di turunkan, maka Naga Sakti /Nabi khaidir As dinamai
Sang Aji Surya Negara yg mana nama/julukan asli sejak zaman-zaman yg
lalu.
Artinya : Sang = Yang Maha(suci), Naga = Raja atau Aji +
Raja/Sakti, Surya = Matahari. Jadi Aji Surya = Raja Diraja Matahari
(Cahaya / nur), jadi Nabi Khaidir As (nama-namanya tersebut) diartikan
Yang Mulia (suci) Raja alam gaib/Dunia Negara, pemberi kehidupan
(cahaya/hukum) menuju ketentraman jiwa/kesejahteraan bathin.
Diposting oleh
inzankelana
di
16.26
0
komentar
Rabu, 17 Agustus 2011
Memperingatkan H.I.K Ciptan Tuhan Yang Maha Esa
Dalam rangka penurunan Hukum (leluhur) H.I.K (Falsafah Jaya Sempurna) Sepanjang zaman bersifat memperingatkan hukum itu pada manusia supaya sadar bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yg keluar pada zaman Nabi Adam as. Peringatan2 itu dilakukan oleh Nabi Khaidir as (Aji Saka/Sang Hiang Rakian Sakti) secara langsung dan tidak langsung melalui berbagai peristiwa nyata, maupun tidak nyata, maupun kiasan (penafsiran). Memperingatkan itu di ujudkan atas dua jenis cara: 1. Pertanda utama, bahwa H.I.K akan langsung di turunkan kembali. 2. Pertanda yg sifatnya menggugah digambarkan secara tidak langsung atau melalui kiasan (penafsiran) terlebih dahulu. Pertanda utama itu memang telah ditentukan Nabi Khaidir as (Aji Saka-Sang Hiang Rakian Sakti) berabad-abad sebelumnya bahwa H.I.K akan turun dimana dan dimasa apa. Pertanda penggugah sebagai peringatan pendahuluan melalui berbagai peristiwa, dilakukan oleh poin (Aulia) dan lain2 yg telah diberikan kundu sungguhpun yg bersangkutan tidak mengetahuinya. Umumnya poin (Aulia) dari Nabi Khaidir as (Aji Saka/ Sang Hiang Rakian Sakti ) baru diketahui oleh masyarakat setelah yg bersangkutan tiada lagi di dunia ini melalui penafsiran perbuatan2 selama hidupnya terutama yg menjurus kesoal Hukum/Falsafah.
Diposting oleh
inzankelana
di
23.06
0
komentar
Selasa, 02 Agustus 2011
Lambang Keluarga ( Bhaya Abadi)
Lambang Sang Hiang Rakian Sakti Tanpa Tongkatnya 1. Di tengah bumi ada tongkat biasa berkepala Ketu Haji = Pangeran Jamil Martabaya VII warna hijau (ikhlas dan tawakal) ditemui kesucian /Nabi Khaidir As, (Sang Hiang Rakian Sakti) selanjut menjadi lambang pribadi Pangeran tersebut. 2. Lambang dalam lingkaran biasa = perjuangan hidup, (maksudnya apa saja yg ada didunia ini tidak ada yg abadi karena itu harus ikhlas dan tawakal. 3. Warna lambang dengan Sang Hiang Rakian Sakti dan Lingkaran warna abu2 (syukur/ridho). D. Lambang Nabi Khaidir As dalam penjelmaan sebagai Aji Saka (Si Pahit Lidah) 1. Lambang Falsafah Jaya Sempurna. 2. Diatasnya Garuda seakan-akan hinggap (warna hitam keemasan). E. Lambang Pangeran Sang Aji Malihi/Ratu Adil Kerajaan Saka Aji 1. Bulan = Hukum (keimanan) untuk ketenangan (pradapan). 2. Bumi = Mupakat yg adil (telah membudaya dlm masyarakat. 3. Di garis katulistiwa ada garis tegak (di tengahnya) = Keadilan Ratu Adil. 4. Lambang di atas dalam lingkaran tasbih (tawakal ihklas) warna hijau. 5. Warna-warni seperti lambang falsafah Jaya Sempurna dan lambang keadilan warna hijau (ikhlas terhadap pemberian Tuhan dan ihklas berkorban untuk sesama manusia). Lambang2 Pangeran Tambuh Martabaya IV (Kerajaan Haji /Saka Aji) 1. Sama dengan Ratu Adil (1 dan 2) 2. Dalam bumi ada 2 keris bersilang = menuntut Hak/menegakkan Hukum kebenaran (berani karena benar) 3. Di dalam gambar jantung = perjuangan warna abu2 = syukur ridha. 4. Warna - warni seperti lambang falsafah Jaya Sempurna dan lambang keris berwarna merah (dalam perjuangan tidak tamak /rakus (gana'ah) 4. Tangan atau tongkat sifatnya (kiasan) Kerakatan hidup sesamanya dgn kebijakan dalam pergaulan. Maksudnya ialah tujuan hidup manusia untuk membina kerukunan dan damai sebagai jalan pengabdian pada sesama manusia yg berarti mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, jadi dalam pembinaan kerukunan dan damai tidak mendahulukan hawa napsu dunia (duniawi) semata-mata bila kerukunan dan damai terwujud otomatis adil dan makmur adil dan sejahtera terwujud. Perwujudan hal diatas harus senantiasa dgn ikhlas berkorban untuk sesama manusia.
Diposting oleh
inzankelana
di
09.04
0
komentar
Popular Posts
-
Adapun kepulauan nusantara ini pernah d datangi bangsa Yunan dri daratan Indocina pda abad2 5_6 sblm Masehi, yg sblm bangsa itu dtng scra b...
-
Sang Hiang Rakian Sakti (santhy) terkenal di Haji Sakti (Sengang, Saka) hidup sampai hari Kiamat sejak dunia masih dalam Proses dibentuk Tu...
-
HILANG TAPI TAK HILANG 1. Aku tergantung tak bertali......... 2. Menempel tak melekat. 3. Mengambang tak karena alam 4. Di udara bebas ...
